Senin, 27 April 2015

Makalah Bimbingan dan Konseling Terhadap Murid Lambat Belajar



TUGAS KELOMPOK
Bimbingan dan Konseling Terhadap Murid Lambat Belajar
Dosen Pengampu  Triyani Ratnawuri,M.Pd.

Oleh :
                               1. Luciana dewi                          11210053
                               2. Muhammad Fuad                  11210056
                               3. Octy Sri Ponibel                     11210060
                               4. Puspa Ayu Anjarsari             11210061
                               5. Joni Herdiansyah                    11210086
Kelompok 8
Kelas: B
                                         
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2013
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.
            Alhamdulilahi robil alamin, dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dengan kesempatan ini, kami tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada  Triyani Ratnawuri,M.Pd.selaku dosen pengampu dan semua pihak yang  telah berkenan memberikan bantuan-bantuan.
            Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga pembuatan makalah yang akan datang dapat lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.



DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................................................................  i
Kata Pengantar ..............................................................................................................  ii
Daftar Isi .........................................................................................................................  iii
BAB PEMBAHASAN .....................................................................................................  
A. Pengertian siswa lambat belajar dan ciri-cirinya.................................................. 1
B. Manifestasi dari gejala-gejala tingkah laku murid lambat belajar........................ 4
C.  Pemahaman latar belakang tingkah laku lambat belajar..................................... 5
D.  Bantuan terhadap tingkah laku murid lambat belajar......................................... 7
E. Usaha tindak lanjut(Follow Up).......................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA



BAB
Bimbingan dan Konseling Terhadap Murid yang Lambat Belajar

A.     Pengertian dari Lambat Belajar Dan Ciri-Cirinya
Anak Lambat belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Sehingga, anak lambat belajar membutuhkan lebih banyak waktu, lebih banyak pengulangan dan harus seringkali berkonsultasi dengan guru agar mencapai kesuksesan. Murid lambat belajar bisa mengikuti pembelajaran sebagaimana kelas reguler biasa (tanpa harus memerlukan adanya peralatan yang khusus), hanya program belajarnya mungkin agak sedikit disesuaikan  , terutama berkaitan dengan metode dan rentang waktunya. Masalah pokok yang dialami murid-murid yang lambat belajar adalah keterlambatan dalam belajar akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Penyesuaian diri menjadi masalah akibat keadaan emosi yang kurang terkendali sehingga sering terjadi perselisihan dengan teman-temannya.
Murid yang lambat belajar (slow learner) adalah sekelompak murid di sekolah yang perkembangan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan rata-rata teman seusianya. Pada umumnya mereka ini mempunyai kemampuan kecerdasan dibawah rata-rata. Murid yang lambat belajar tersebut sering dikenal sebagai anak yang “sub norma, mentally retarted” seperti yang dijelaskan dalam “Dictionary of Psychology”; slow learner; a non technical term variously applied to children who are some what mentally retarted or are developing at a slower that normal rate” (Ernest R.Hillgrand, 1962).
            Murid lambat belajar berada dengan murid yang prestasi belajarnya rendah (under achiver). Murid lambat belajar perkembangan atau prestasi belajarnya lebih rendah dari rata-rata karena mempunyai kemampuan kecerdasan yang lebih rendah dari rata-rata. Sedangkan murid yang berprestasi rendah (under achiver) prestasi belajarnya lebih rendah dari rata-rata, tetapi kemampuan kecerdasannya normal atau mungkin lebih tinggi. Adapun ciri-ciri lambat diidentifikasikan sebagai berikut:
a.       Kemampuan kecerdasan rendah/ dibawah rata-rata.
b.      Perhatian dan konsentrasinya terbatas.
c.       Terbatasnya kemampuan untuk menilai bahan-bahan pelajaran yang relevan.
d.      Terbatasnya kemampuan unuk menngarahkan diri (self dirention).
e.       Terbatasnya kemampuan mengabstraksi dan menggenaralisai yang membutuhkan pengalaman-pengalaman konkret.
f.       Lambat dalam melihat dan menciptakan hubungan antara kata dan pengertian.
g.      Sering mengalami kegagalan dalam mengenal kembali hal-hal yang telah dipelajari dalam bahan dan situasi baru.
h.      Waktu untuk mempelajari dan menerangkan pelajaran cukup lama, akan tetapi tidak dapat bertahan lama dalam ingatannya. Cepat sekali melupakan apa yang telah dipelajari.
i.        Kurang mempunyai inisiatif.
j.        Tidak dapat menciptakan dan memiliki pedoman kerja sendiri, serta kurang memiliki kesanggupan untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat.
k.      Kurang mempunyai daya cipta (kreativitas)
l.        Tidak mempunyai kesanggupan untuk menguraikan, menganalisis atau memecahkan suatu persoalan atau berfikir kritis.
m.    Tidak mempunyai kesanggupan untuk menggunakan proses mental yang tinggi (Herniyanto dan Triyono , Tanpa Tahun).
Sedangkan Cece Wijaya mengidentifikasikan ciri-ciri murid lambat belajar ditinjau dari segi proses belajar mengajar sebagai berikut:
a.       Mereka lambat didalam mengamati dan mereaksi peristiwa yag terjadi pada lingkungan.
b.      Meraka jarang mengajukan pertanyaan dan kurang berkeinginan untuk mengikuti jawabannya.
c.       Mekara kurang memperlihatkan dan bahkan tifak menaruh perhatian terhadap apa dan bagaimana pekerjaan itu dikerjakan.
d.      Mereka banyak menggunakan daya ingat (hapalan) dari pada logika (reasoning).
e.       Mereka tidak dapat menggunakan cara menghubungkan bagaimana pengetahuan dengan pengetahuan lainnya dalam berfikir.
  1. Mereka kurang lancar, tidak jelas dan tidak tepat dalam menggunakan bahasa.
  2. Mereka banyak bergantung pada guru dan orang tua di dalam membuktikan ilmu pengetahuan.
  3. Mereka sangat lambat dalam memahami konsep-konsep abstrak.
  4. Mereka memperoleh kesulitan di dalam mentransfer pengetahuan dari satu ladang ke ladang yang lain.
  5. Mereka lebih banyak mengambil jalan coba salah dari pada menggunakan logika dalam memecahkan masalah.
  6. Mereka tidak sanggup membuat generalisasi dan mengambil kesimpulan.
  7. Mereka miskin memiliki daya lekat (retensi) ingatan dalam segala bentuk kegiatan belajar.
  8. Mereka memperlihatkan kelemahan dalam tulissan walaupun menggunakan kata-kata mudah dan sederhana.
  9. Mereka memiliki kelemahan di dalam mengerjakan tugas-tugas yang harus dikerjakan secara bebas.
Kesulitan belajar biasanya terjadi pada siswa yang berkemampuan rendah dan mengalami kelambatan dalam belajar. Anak yang lambat dalam belajar akan tampak jelas dari menurunnya kinerja akademis atau prestasi belajar. Lambatnya belajar siswa dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) seperti terlalu diam di kelas (karena tidak mengerti meteri pelajaran), suka mengusik atau mengganggu teman, suka berkelahi, sering tidak masuk kelas, serta membolos pada waktu pelajaran.Guru harus mengidentifikasi kemungkinan sebab-sebab kesulitan belajar siswa. Koestoer mengidentifikasi kemungkinan sebab lambatnya belajar siswa berdasar empat kategori  yaitu:
a.       Kondisi sosiologis yang permanen
b.      Kondisi sosiologis yang temporer
c.       Pengaruh-pengaruh lingkungan sosial yang permanen
d.      Pengaruh leingkungan sosial yang temporer





B.      Manesfitasi Dari Gejala-Gejala Tingkah Laku Murid Lambat Belajar
            Pada umumnya murid lambat belajar menunjukkan tingkah laku sebaga berikut:
1.      Keterlambatan: lambat dalam menerima pelajaran, lambat dalam mengelola pembelajaran, lambat membaca, lambat memahami bacaan, lambat bekerja, lambat dalam mengerjakan tugas, lambat dalam memecahkan masalah,dsb.
2.      Kelainan tingkah laku yaitu tingkah laku yang tidak produktif dan kebiasaan jelek.
3.      Kurangnya kemampuan yaitu kurang mampu konsentrasi, kurang kemampuan mengingat, kurang kemampuan membaca, kurang kemampuan berkomunikasi, kurang kemampuan memimpin, kurang kemampuan menyatakan ide  atau pendapat.
4.      Prenstasi yang rendah yaitu prestasi belajar dan mengajar.
  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
a.       Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
b.      Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
c.       Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater).
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa:
(1) tujuan pendidikan;
(2) kedudukan dalam kelompok;
(3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan
(4) kepribadian.

C.     Pemahaman Latar Belakang Tingkah Laku Lambat Belajar
            Dalam memahami latar belakang tingkah laku murid yang lambat belajar dapat dilakukan dengan:
a.       Mempelajari catatan pribadi
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh guru/konselor dalam menghadapi kasus murid dalam lambat belajar adalah apa yang memahami latar belakang gejala-gejala tingkah laku tersebut. Dalam melaksanakan pelaksaan program bimbingan dan konseling disekolah maka guru/konselor mengumpulkan data yang diharapkan secara lengkap tersimpan dalam cacatam pribadi murid atau bentuk-bentuk catatan lain. Untuk memahami latar belakang suatu gejala tingkah laku tertentu, konselor pertama-tama hendaklah berhubungan dengan murid tersebut. Untuk mempermudah cara bekerja baik pemahaman masalah maupun dalam pelayanan bantuan dapat digunakan format pembimbing murid.
Data yang digunakan serta dipelajari serta menyimpan dalam format tidak seluruh data melainkan dipilih data yang relevan dengan gejala-gelaja yang diperlihatkan murid. Cara menyeleksi data agar relevan dengan gejala-gejala yang diperlihatkan murid, maka guru/konselor harus mempunyai hipotesis tentang masalah yang mungkin dihadapi sebelum melihat gejala-gejala kesulitan pada murid. Oleh karena itu seleksi data sebaiknya didasari hipotesis tersebut, meskipun hipotesis masih lemah akan dapat menentukan arah kkerja dengan baik.

b.      Pengumpulan data baru
Dengan data yang diperoleh dari data catatan pribadi, kemunginan sudah didapat data yang memadai tentang latar belakang tingkah laku lambat belajar seorang murid.  Apabila data yang diperoleh data cacatan pribadi belum memadai maka masih perlu disusun kemung kinan masalah sementara untuk kemudian diadakan pengumpulan data baru yang dikerjakan pada saat konselor menghadapi seorang kasus. Pengumpulan data baru dapat dipusatkan pada hhal-hal berikut :
1.      Untuk mengcek kemampuan kecerdasan murid
2.      Untuk mendapatkan data yang lebih lengkap tentang keadaan keluarga serta pelayanan keluarga terhadap murid sebagai kasus.
3.      Untuk mendapatkan data lebih lanjut tentang hubungan sosial murid dengan teman-temannya.
c.       Menyimpulkan masalah
Dengan terkumpulnya data, hasil pengumpulan data baru maka diharapkan sudah diperoleh data yang lengkap, sehingga sudah dapat disimpulkan kemungkinan masalah yang dihadapi murid lambat belajar.
Penyimpulan masalah hendaknyadalam bentuk alternatif (kemungkinan-kemungkinan), dan disusun dalam satu rangkig (diberi rangking prioritas), sehingga dapat dilihat urutan kemungkinan terkuat sampai pada kemungkinan terlemah. Penyusunan berbagai kemungkinan konselor meninjau masalah itu secara luas dan dapat disesuaikan dengan kemampuan serta alat-alat yang ada.

D.    Bantuan terhadap Siswa yang Lambat Belajar
Secara umum kemungkinan-kemungkinan bantuan yang dapat diberikan kepada siswa yang lambat belajar antara lain:
  1. Pemberian informasi secara lisan
Tujuan pemberian informasi lisan ini adalah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa sesuai dengan kasus yang dialaminya. Informasi ini dapat diberikan dengan cara tanya jawab, diskusi dan ceramah. Cara yang dipergunakan tergantung pada kemampuan dan kesediaan siswa yang bersangkutan. Langkah-langkah yang ditempuh dalam memberikan informasi secara lisan adalah :
  1. Mempersiapkan bahan-bahan informasi yang diperlukan dan menyajikan dengan format/bentuk tertentu.
  2. Menciptakan hubungan yang baik dengan siswa yang menjadi kasus.
  3. Mengkomunikasikan bahan.
  4. Menyimpulkan informasi dan merangkum cara-cara belajar.
  1. Bantuan penempatan
Bantuan penempatan ini ditujukan untuk memperbaiki bantuan siswa dalam mengatasi kesulitan khususnya yang menyangkut hubungan sosial siswa di dalam kelas dan tingkat kemampuan siswa. Misalnya: menempatkan siswa pada kelas-kelas heterogen yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya.
  1. Pertemuan dengan orang tua
Pertemuan dengan orang tua siswa ini yang dianggap paling banyak manfaatnya dalam membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, memberikan saran-saran tentang bagaimana sebaiknya member pelayanan kepada siswa yang lambat belajar dan memberikan motivasi serta petunjuk cara-cara belajar yang efektif dan efisien.


  1. Sosiodrama
Sosiodrama ini digunakan untuk memperbaiki hubungan sosial dengan teman-temannya. Dalam pelaksanaan sosiodrama ini harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Persiapan yaitu mempersiapkan pengelompokan siswa, megidentifikasikan masalah yang dihadapi kelompok, merencanakan tema cerita.
  2. Introduksi yang meliputi memperkenalkan kegiatan dan tujuannya serta menjelaskan cara-cara melaksanakan kegiatan.
  3. Pemilihan peran yang meliputi kegiatan menceritakan garis besar cerita dan penentuan para pemain.
  4. Pelaksanaan sosiodrama yaitu masing-masing pemeran memerankan perannya sesuai dengan fantasinya.
  5. Mendiskusikan sikap-sikap yang diperankan, bertukar pendapat dan saran tentang sikap tersebut, pengarahan dan pemecahan.
  6. Mengulangi permainan setelah memperhatikan hasil diskusi.
5.      Konseling Individual
Pada tahap ini konselor memberikan bantuan kepada siswa secara individual dengan memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi.Masalah-masalah ini memiliki intensitas kesulitan yang cukup dalam dan konselor mempergunakan bermacam-macam teknik sesuai dengan keadaaan dan latar belakang siswa.
                               Secara umum kemungkinan-kemungkinan bantuan yang dapat diberikan  kepada siswa lambat belajar antara lain :

1. Pemberian Layanan Informasi
                 Tujuan pemberian layanan informasi adalah untuk memberikan berbagai keterangan yang dibutuhkan siswa sesuai dengan masalah yang dialami. Jerome Rosner (1993) mengungkapkan petunjuk untuk mencapai tujuan tersebut layanan ini hendaknya memperhatikan patokan atau rambu-rambu berikut :
a). Pahami dan pastikan bahwa siswa memiliki pengetahuan factual yang diperlukan dalam memahami bahan ajar.
b). Batasi jumlah informasi baru kepada hal-hal yang tercantum pada    bahan atau sub pokok bahasan, dan sampaikan sedikit demi sedikit, jika perlu dengan jembatan keledai.
c). Sajikan informasi secara jelas tentang apa yangharus dipelajari.
d).            Nyatakan secara eksplisit bahwa informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki siswa.
e). Jika siswa sudah mampu menguasai unit kecil (sub pokok bahasan) perkenalkan dia pada unit yang lebih besar.
f). Siapkan pengalaman ulang untuk memperkuat informasi baru dalam ingatan siswa.
g). Lakukan drill dan latihan yang paling efektif jika perlu siswa diminta mengatakan atau menuliskan apa yang dia lihat dan dengar.

2        Layanan Penempatan
               Layanan penempatan dan penyaluran ialah kegiatan pembimbingan yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, dan cirri-ciri pribaadinya. Tujuan layanan penempatan adalah membantu siswa agar dapat memiliki penyesuaian kepribadian yang lebih baik sehubungan dengan lingkungan sekolah. Kegiatan pelayanan penempatan ini ialah memberikan bantuan dalam hal : pembentukan kelompok belajar; pembentukan kelompok kegiatan; kegiatan ekstrakurikuler; penempatan tempat duduk di kelas; penempatan dalam situasi tertentu yang dapat memecahkan masalah (dalam pengajaran remedial) dan penempatan dalam kelompok khusus lainnya.

3        Latihan
              Latihan merupakan kegiatan yang sudah direncanakan dan kegiatan itu dilakukan secara berulang-ulang sampai tercapai tujuan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini tujuan merupakan perilaku, kebiasaan, sikap dan keterampilan yang diinginkan. Jadi latihan ini berfungsi mengubah perilaku, sikap dan kebiasaaan lama yang tidak baik dan dianggap penghambat perkembangan anak menjadi sikap, kebiasaan dan perilaku yang baik. Materi latihan harus disesuaikan dengan permasalahan anak dan caranya harus disesuaikan dengan kepribadian anak. Oleh karena itu, dalam melatih dibutuhkan kesabaran dan keterampiln guru.



4        Pengajaran Remidial
                          Dengan melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dipandang masih belum mencapai apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses belajar-mengajar. Hal-hal yang diperbaiki atau dibetulkan melalui pengajaran remedial, antara lain :
a). Perumusan tujuan
b). Penggunaan metode
c). Cara-cara belajar
d). Materi dan alat pelajaran
e).  Evaluasi, dan
f).  Segi-segi pribadi siswa


5        Konsultasi Dengan Orang Tua Siswa
                 Konsultasi dengan orang tua siswa dianggap paling banyak manfaatnya dalam membantu kesulitan yang dialami siswa lambat belajar. Konsultasi ini dimaksudkan untuk mendiskusikan kesulitan yang dihadapi anak, member saran-saran bagaimana sebaiknya memberikan layanan kepada anak belajar dan memberikan motivasi dan cara-cara belajar yang efektif dan efisien.


E.      Usaha – Usaha Tindak Lanjut (Follow Up)
Setelah guru/konselor memberikan bantuan dalam proses pemecahan kesulitan murid dalam belajar, maka masih perlu mengikuti perkembangan murid. Langkah ini juga menerapkan evaluasi terhadap seluruh tahap dalam proses pemecahan kesulitan belajar bagi murid yang lambat belajar.
Apakah dalam tahap – tahap tersebut sudah tepat atau sebaliknya sehingga dapat dipertimbangkan apakah perlu adanya perbaikan atau tidak. Pada tahap ini biasanya dilakukan kegiatan – kegiatan seperti mengadakan wawancara dengan orang tua dan guru untuk men-cek apakah perubahan tingkah laku telah terjadi atau belum. Di samping itu perlu observasi langsung terhadap murid lambat belajar yang mendapat bantuan tersebut, terhadap bantuan yang belum berhasil, apabila masih berada dalam kemampuan konselor maka dapat diadakan usaha – usaha umpan balik (feed back). Usaha umpan balik ini dapat berupa :
a)      Pengumpulan data kembali untuk mendapatkan data yang lebih lengkap atau men-cek data yang ada tentang latar belakang masalah.
b)      Perumusan – perumusan kemungkinan masalah kembali, sebab mungkin perumusan masalah yanglalu kurang tepat.
c)      Pemilihan layanan bantuan bimbingan konseling yang lain.
d)     Mengulang bantuan bimbingan dan konseling kepada murid yang lambat belajar tersebut (badan penelitian dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan (BP & K), 1985)
Dalam mengulang kegiatan – kegiatan tersebut kerja sama dengan guru, orang tua dan staf  lainnya tetap diperlukan. Apabila pelayanan bantuan yang dilakukan konselor terhadap murid lambat belajar, di luar batas kemampuanya, maka konselor telah melakukan fungsi penghantar (referal).Langkah yang dapat dilakukan konselor alam menghantarkan/menyerahkan murid sebagai kasus kepada orang lain yang lebih berwenang adalah :
a)      Menyerahakan kepada orang yang ahli tes diagnostik untuk pelajaran dasardan pelajaran lainnya.
b)      Menyerahkan kepada ahli pengajaran remidial dalam pengajaran dasar dan lainnya.
c)      Bersama orang tua menyerahkan murid sebagai kasus kepada dokter atau psikologi. 
Program Layanan Bimbingan Konseling yang dikembangkan bagi siswa lambat belajar mengacu pada keadaan individu sebagai manusia seutuhnya sehingga menyentuh semua dimensi perkembangan kepribadian secara utuh.
Tehnik yang dimaksudkan untuk menangani siswa tersebut akan mengarah pada unsur-unsur yang berhubungan dengan :
1.    Pengembangan ranah kognitif/intelektual
Pada pemgembangan ini guru diharapkan menyediakan rentangan pengalaman belajar yang luas serta dapat diamati atau nyata. Pengelolahan bahan dan tugas ajar secara khusus yang di dasarkan pada kurikulum yang ada merupakan hal yang harus dilakukan guru dalam memberikan pelayanan optimal bagi siswa lambat belajar
2.    Pengembangan ranah afektif
Pembimbing diharapkan memahami pikiran dan harapan anak yang ada pada dirinya serta kemungkinan pemenuhannya di dalam sikap kehidupan berkelompok
3.    Pengembangan ranah fisik
Pembimbing diharapkan memberikan layanan yang dapat memberikan kemungkinan siswa memperoleh pengalaman memadukan pola perkembangan berikir dengan perkembangannya dan memberikan peran-peran yang sesuai di dalam kelompoknya.
4.    Pengembangan ranah intuitif
Fungsi intuitif merupakan fungsi yang terlibat di dalam pemunculan wawasan dan tindakan kreatif. Mengingat fungsinya itu, maka layanan bagi siswa yang lambat belajar perlu memperdulikan pengembangan pengalaman yang mendorong dia untuk berimajenasi dan berkreasi (dalam tingkat yang sederhana)
5.    Pengembangan ranah masyarakat
Pemberian layanan dapat dilakukan dengan membantu siswa  memperoleh pengalaman mengembangkan diri menjadi anggota kelompok,serta mampu berpartisipasi dalam proses kelompok memperluas perasaan keanggotaan masyarakat. Memperluas identifikasi diri dari masyarakat terbatas ke arah identifikasi terhadap masyarakat luas. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan merancang kegiatan-kegiatan kelompok khusus.














SOAL
Pilihan ganda

1.      Murid yang berprestasi rendah merupakan murid yang prestasi belajarnya lebih rendah dari rata-rata. Murid yang berprestasi rendah disebut juga dengan….
a.       Under achiver.
b.      Under achiever.
c.       Undder uchiever.
d.      Uender achievere.
e.       Undere activere.
2.      Sekelompak murid di sekolah yang perkembangan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan rata-rata teman seusianya. Merupakan pengertian dari…
a.       Cepat belajar.
b.      Lambat belajar.
c.       Kesulitan belajar.
d.      Pandai belajar.
e.       Tidak belajar.
3.      Anak yang mengalami lambat belajar biasanya memiliki sifat…
a.       acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, pemarah.
b.      Berpura-pura,dusta,ramah,dusta.
c.       Acuh tak acuh,menentang,berpura-pura,dusta.
d.      Pemarah,pedendam,sombong,malas
e.       Egois,pemalas,sombong,pedendam
4.      Dalam memahami latar belakang tingkah laku murid yang lambat belajar dapat dilakukan dengan,kecuali….
a.       Mempelajari catatan pribadi.
b.      Mengumpulan data baru.
c.       Menyimpulkan masalah.
d.      Memberi bantuan murid lambat belajar..
e.       Mempelajari catatan,mengumpulkan data,menyimpulkan masalah.
5.      Didalam usaha  tidak lanjut dalam murid lambat belajar diperlukannya umpan balik umpan balik tersebut yaitu,kecuali
a.       Pengumpulan data kembali untuk mendapatkan data yang lebih lengkap atau men-cek data yang ada tentang latar belakang masalah.
b.      Perumusan – perumusan kemungkinan masalah kembali, sebab mungkin perumusan masalah yanglalu kurang tepat.
c.       Pemilihan layanan bantuan bimbingan konseling yang lain.
d.      Mengulang bantuan bimbingan dan konseling kepada murid yang lambat belajar tersebut .
e.       Memberikan pengarahan kepada murid lambat belajar.

 Essay

1.      Dalam pengumpulan data baru ada 3 hal yang harus diperhatikan, sebutkan !
2.      Tehnik yang untuk menangani murid lambat belajar akan mengarah pada unsur-unsur yang berhubungan dengan apa saja,sebutkan!
3.      Sosiodrama digunakan untuk memperbaiki hubungan sosial dengan teman-temannya. Dalam pelaksanaan sosiodrama ini harus memperhatikan langkah-langkah.sebutkan 3 saja!
4.      Koestoer mengidentifikasi kemungkinan sebab lambatnya belajar siswa berdasar empat kategori,sebutkan!
5.      Sebutkan 3 ciri-ciri murid lambat belajar ditinjau dari segi proses belajar mengajar!









Jawaban
Pilihan ganda:
1.         A
2.         B
3.         C
4.         D
5.         E

Essay:
     1.    a Untuk mengcek kemampuan kecerdasan murid.
            b.Untuk mendapatkan data yang lebih lengkap tentang keadaan keluarga serta
            pelayanan keluarga terhadap murid sebagai kasus.
           c.Untuk mendapatkan data lebih lanjut tentang hubungan sosial murid dengan
           teman-temannya.
2.      a.   Pengembangan ranah kognitif/intelektual
b.      Pengembangan ranah afektif
c.       Pengembangan ranah fisik
d.      Pengembangan ranah intuitif
e.       Pengembangan ranah masyarakat
3.       1. Persiapan yaitu mempersiapkan pengelompokan siswa, megidentifikasikan masalah yang dihadapi kelompok, merencanakan tema cerita.
2. Introduksi yang meliputi memperkenalkan kegiatan dan tujuannya serta menjelaskan cara-cara melaksanakan kegiatan.
3. Pemilihan peran yang meliputi kegiatan menceritakan garis besar cerita dan penentuan para pemain.
4. Pelaksanaan sosiodrama yaitu masing-masing pemeran memerankan perannya sesuai dengan fantasinya.
5. Mendiskusikan sikap-sikap yang diperankan, bertukar pendapat dan saran tentang sikap tersebut, pengarahan dan pemecahan.
6. Mengulangi permainan setelah memperhatikan hasil diskusi.
   4.      a.       Kondisi sosiologis yang permanen
b.      Kondisi sosiologis yang temporer
c.       Pengaruh-pengaruh lingkungan sosial yang permanen
d.      Pengaruh leingkungan sosial yang temporer

  5        a. Mereka lambat didalam mengamati dan mereaksi peristiwa yag terjadi pada lingkungan.
b.  Meraka jarang mengajukan pertanyaan dan kurang berkeinginan untuk mengikuti jawabannya.
c.  Mereka  kurang memperlihatkan dan bahkan tifak menaruh perhatian terhadap apa dan bagaimana pekerjaan itu dikerjakan.
d.  Mereka banyak menggunakan daya ingat (hapalan) dari pada logika (reasoning).
e.  Mereka tidak dapat menggunakan cara menghubungkan bagaimana pengetahuan dengan pengetahuan lainnya dalam berfikir.
f.       Mereka kurang lancar, tidak jelas dan tidak tepat dalam menggunakan bahasa.
g.      Mereka banyak bergantung pada guru dan orang tua di dalam membuktikan ilmu pengetahuan.
h.      Mereka sangat lambat dalam memahami konsep-konsep abstrak.
i.        Mereka memperoleh kesulitan di dalam mentransfer pengetahuan dari satu ladang ke ladang yang lain.
j.        Mereka lebih banyak mengambil jalan coba salah dari pada menggunakan logika dalam memecahkan masalah.
k.      Mereka tidak sanggup membuat generalisasi dan mengambil kesimpulan.
l.        Mereka miskin memiliki daya lekat (retensi) ingatan dalam segala bentuk kegiatan belajar.
m.    Mereka memperlihatkan kelemahan dalam tulissan walaupun menggunakan kata-kata mudah dan sederhana.
n.      Mereka memiliki kelemahan di dalam mengerjakan tugas-tugas yang harus dikerjakan secara bebas.


Daftar Pustaka


Mulyadi.2010.Diagnosa Kesulitan Belajar.Nuha Litera.Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar