Senin, 27 April 2015

Materi PERSPEKTIF TEORITIK PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKESULITAN BELAJAR



MATERI PERSENTASI BAB 1
Sub Bab
1.      Peranan teori dalam pendidikan bagi anak yang berkesulitan belajar
2.      Pelayanan pengajaran remedial bagi anak berkesulitan belajar
3.      Hubungan antara pendidikan luar biasa dengan pendidikan pada umumnya
4.      Berbagi  teori tentang proses dan hasil belajar
PERSPEKTIF TEORITIK
PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKESULITAN BELAJAR
Latar belakang
            Pelayanan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar yang tidak didasarkan atas landasan teoritik yang dapat diandalkan mungkin bukan tidak hanya efektif dan efisiensi untuk mencapai tujuan tetapi juga menimbulkan kerugian bagi anak. Sebagai contoh, semua guru mengetahui bahwa motivasi dapat meningkatkan prestasi belajar anak. Tetapi, tidak banyak guru yang mengetahui bagaimana membangkitkan motivasi belajar anak. Dalam kelas yang siswanya memiliki kemampuan heterogen misalnya, mungkin guru akan menciptakan interaksi belajar yang kompetitif karena ia beranggapan bahwa kompetisi dapat meningkatkan motivasi yang pada gilirannya juga meningkatkan prestasi belajar anak. Guru tersebut lupa bahwa kompetensi antarindividu yang memiliki kekuatan tidak seimbang dapat menimbulkan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helpleesness) bagi yang lemah dan menimbulkan kebosanan bagi yang terlalu kuat. Jika anak yang berkesulitan belajara berada dalam kelas dengan suasana belajar kompetitif semacam itu maka dapat diramalkan bahwa mereka akan menjadi anak yang putus asa, yang tidak hanya berakibat buruk bagi pencapaian prestasi belajar yang optimal tetapi juga berakibat buruk bagi pembentukan kepribadian nya. Oleh karena itu, guru perlu memiliki pengetahuan teoritik yang dapat digunakan sebagai bekal dalam menciptakan strategi pembelajaran yang tidak hanya efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran tetapi juga efektif untuk membangun kepribadian yang sehat untuk anak.
1.      Peranan teori dalam pendidikan bagi anak yang berkesulitan belajar

            Tujuan ilmu adalah untuk membentuk teori. Begitu pula dengan ilmu yang mengkaji pendidikan bagi anak yang berkesulitan belajar, bertujuan untuk membentuk teori-teori yang dapat digunakan sebagai landasan yang dapat diandalkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan anak berkesulitan belajar.

            Teori adalah sekumpulan bangunan pengetahuan atau konsep, defenisi, dan dalil yang saling terkait, yang memungkinkan terbentuknya suatu gambaran yang sistematik tentang fenomena yang menjelaskan hubungan anar berbagai variabel, dengan tujuan menjelaskan dan meramalakan fenomena tersebut (Kerlinger, 1973:9). Menurut Ary, Jacobs, dan Razaviech melalui teori ilmiah kita dapat memberikan penjelasan, peramalan, dan pengendalian tentang suatu fenomena. Dengan demikian teori ilmiah tentang pendidikan bagi anak yang berkesulitan belajar dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena kesulitan belajar, meramalakan peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi jika suatu perlakuan digunakan, dan dapat digunakan untuk mengontrol atau mengendalikan agar fenomena kesulitan belajar tidak terjadi atau bertambah parah.

            Menurut Jujun S. Suriasumantri (1984:84), ilmu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok ilmu murni dan ilmu terapan. Berbeda dengan ilmu terapan yang diarahkan langsung untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, ilmu murni umumnya belum dapat digunakan untuk memecahkan masalah seperti itu. Meskipun demikian, jika ilmu terapan gagal memecahkan suatu maslah yang dihadapi, maka ikmu tersebut akan melihat kembali landasan ilmu murninya. Ini tidak berati bahwa ilmu terapan bukan ilmu yang otonom atau ilmu yang berdiri sendiri, karena baik ilmu terapan maupun ilmu murni memiliki objek formal yang berbeda meskipun mungkin objek materinya sama. Menurut Jujun S. Suariasumantri , ilmu pendidikan merupakan ilmu terapan yang mengaplikasikan tiga ilmu sosial psikolog, sosiologi, dan antropologi. Ilmu pendidikan memiliki objek materi yang sama dengan ilmu murninya yaitu manusia, tetapi memiliki bidang telaah yang berbeda dari ilmu murninya yaitu pendidikan. Oleh karena itu, ilmu pendidikan adalah ilmu yang berdiri sendiri, dalam memecahkan masalah-maslah kependidikan sering diperlukan pendekatan multidisipliner yang melibatkan barbagai ilmu yang terkait.

            Pendidikan bagi anak yang berkesulitan belajar merupakan bagian dari ilmu pendidikan luar biasa atau sering disingkat PLB atau sering disebut juga Ortopedagogik. Ilmu pendidikan luar biasa atau ortopedagogik adalah cabang ilmu pendidikan atau pedagogik. Sebagai cabang dari ilmu pendidikan maka ilmu PLB berusaha membangun teori-teorinya sendiri.

2.      Pelayanan pengajaran Remidial bagi Anak Berkesulitan Belajar

            Pengajaran remedial (remedial teaching) bertolak dari konsep belajar tuntas (master learning), yang ditandai oleh system pembelajaran dengan menggunakan modul.pada tiap akhir kegiatan pembelajaran dari suatu unit pelajaran, guru melakukan evaluasi formatif, dan setelah evaluasi formatif anak-anak yang belum menguasai bahan pelajaran diberikan pengajaran remedial, agar tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dicapai. Dengan demikian,  pengajaran remedial pada hakikatnya merupakan kewajiban bagi semua guru setelah mereka melakukan evaluasi formatif dan menemukan adanya anak yang belum mampu meraih tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya.
            Dalam kehidupan sehari-hari ada anak yang meskipun telah diberi pengajaran remedial oleh guru, mereka tetap  memperoleh prestasi belajar yang tidak sesuai dengan tujuan yang  telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan mungkin ada anak-anak yang penguasaanya prasyaratnya masih terlalu rendah untuk mengikuti pelajaran yang disajikan sehingga guru perlu memperbaiki penguasaan prasayrat tersebut. Anak-anak seperti itu tergolong anak berkesulitan belajar. Tugas untuk memberikan pengajaran remedial bagi Anak-anak berkesulitan belajar yang berat seperti itu sebaiknya diserahkan kepada Guru yang memiliki keahlian khusus dalam pelayanan pendidikan bagi anak-anak berkesulitan belajar disebut Guru remedial (remedial teacher). Dengan demikian, di suatu sekolah idealnya ada dua jenis guru, guru regular (baik guru kelas maupun guru bidang studi) dan guru remedial yang khusus memberikan pelayanan pengajaran remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar.
            Sebelum pengajaran remedial diberikan, guru lebih dahulu perlu menegakkan diagnosis kesulitan belajar, yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Menurut buku Akta Mengajar v (1984/1985:40), ada enam langkah prosedur diagnosis yang perlu dilalui, 1. Identifikasi, 2. Lokalisasi letak kesulitan, 3. Lokalisasi penyebab kesulitan, 4. Memperkirakan kemungkinan bantuan, 5. Menetapkan kemungkinan cara mengatasi kesulitan, 6. Tindak lanjut.
Menurut Samuel A. Kirk (1986: 265), prosedur diagnosis mencakup lima langkah, 1. Menentukan potensi atau kapasitas anak, 2. Menentukan taraf kemampuan dalam suatu bidang studi yang memerlukan pengajaran remedial, 3. Menentukan gejala kegagalan dalam suatu bidang studi, 4. Menganalisis factor-faktor yang terkait, 5. Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial.
Dari kedua jenis prosedur tersebut mungkin disintesiskan sehingga langkah-langkahnya menjadi:
  1. Identifikasi
  2. Menentukan prioritas
  3. Menentukan potensi
  4. Menentukan taraf kemampuan dalam bidang yang perlu diremidiasi
  5. Menentukan gejala kesulitan
  6. Menganalisis faktor-faktor yang terkait
  7. Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial
Berikut ini secara berturut-turut akan dicoba membahas prosedur dan prinsip pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar yang merupakan bagian sangat penting sebelum pengajaran remedial diberikan :
  1. Prosedur Diagnosis 
Seperti telah dikemukakan bahwa ada tujuh prosedur yang harus dilalui dalam menegakkan diagnosis, yaitu identifikasi, menentukan prioritas, menentukan potensi anak, menentukan taraf kemampuan, menentukan gejala kesulitan, menganalisis faktor-faktor yang terkait, menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial. Prosedur tersebut dapat dijelaskan seperti berikut:
Identifikasi . sekolah yang ingin menyelenggarakan program pengajaran remedial yang sistematis hendaknya melakukan identifikasi untuk menentukan anak-anak yang memerlukan atau berpotensi memerlukan pelayanan pengajaran remedial.pelaksanaan identifikasi dapat dilakukan dengan memperhatikan laporan guru kelas atau sekolah sebelumnya, hasil tes intelegensi yang dilakukan secara missal atau individual, atau melalui instrumen informal, misalnya dalam bentuk lembar observasi guru atau orang tua.berdasarkan informasi tersebut sekolah dapat memperkirakan berapa jumlah anak yang memerlukan pelayanan pengajaran remedial. Berdasarkan data tersebut juga dapat digunakan untuk mengelompokkan anak, berapa yang tergolong ringan yang dapat dilayani oleh guru reguler,  berapa yang tergolong sedang, dan berapa yang tergolong berat yang memerlukan pelayanan dari guru remedial, yaitu guru khusus yang memiliki keahlian dibidang pendidikan bagi anak berkesulitan belajar.
Menentukan prioritas. Tidak semua semua anak yang oleh sekolah dinyatakan sebagai berkesulitan belajar memerlikan pelayanan khusus oleh guru remedial, lebih-lebih jika jumlah guru remedial masih sangat terbatas. Oleh karena itu, sekolah perlu menentukan prioritas anak mana yang diperkirakan dapat diberi pelayanan pengajaran remedial oleh guru kelas atau guru bidang studi, dan anak mana yang perlu dilayani oleh guru khusus. Anak-anak berkesulitan belajar yang tergolong berat mungkin perlu memperoleh prioritas utama untuk memperoleh pelayanan pengajaran remedial yang sistematis dari guru khusus remedial.
Menentukan potensi. Potensi anak biasanya didasarkan atas sekor tes intelegensi. Oleh karena itu, setelah identifikasi anak berkesulitan belajar dilakukan, maka untuk menentukan potensi anak diperlukan tes intelegensi. Tes intelegensi yang paling banyak digunakan adalah WISCR (Wechsler Intelegence Scale for Children-Revised) (Anastasi, 1982:251). Jika dari hasil tes tersebut anak memiliki sekor IQ 70 kebawah, maka anak semacam itu dapat digolongkan ke dalam kelompok anak tunagrahita tidak memerlukan pelayanan pengajaran remedial di sekolah biasa tetapi seluruh program pengajaran harus disesuaikan dengn potensi anak tersebut. Jika hasil tes intelegensi menunjukkan bahwa anak mamiliki sekor  IQ 71 hingga 89, maka anak semacam itu tergolong lamban belajar, yang mungkin secara terus-menerus memerlukan bantuan agar dapat mengikuti program pendidikan yang didasarkan atas kriteria normal. Yang dapat digolongkan anak berkesulitan belajar ialah yang memiliki sekor IQ rata-rata atau lebih, yaitu paling rendah sekor IQ 90.
Menentukan penguasaan bidang studi yang perlu diremidialiasi. Salah satu karakteristik anak berkesulitan belajar adalah prestasi belajar yang jauh di bawah kapasitas intelegensinya. Oleh karena itu, guru remedial perlu memiliki data tentang prestasi belajar anak dan membandingkan prestasi belajar tersebut dengan taraf intelegensinya. Jika prestasi belajar anak menyimpang jauh di bawah kapasitas intelegensinya maka tidak dapat dikelompokkan sebagai anak berkesulitan belajar. Ditinjau dari sudut statistika, ynag dimaksud dengan penyimpangan yang jauh dibawah rata-rata adalah dua simpangan baku di bawah rata-rata (mean).
Menentukan gejala kesulitan. Pada langkah ini gururemidial perlu melakukan observasi dan analisis cara anak belajar. Ca anak mempelajari suatu bidang studi sering dapat memberikan informasi diagnostic tentang sumber penyebab yang orisinal dari suatu kesulitan. Kesulitan dalam membedakan huruf “b” dengan “d” misalnya, sering merupakan petunjuk bahwa anak memiliki gangguan persepsi visual tersebut sering disebabkan olah adanya disfungsi otak. Gejala kesulitan tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan diagnosis, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan strategi pembelajaran yang sesuai.
Analisis berbagai faktor yang terkait. Pada langkah ini guru remedial perlu ,elakukan analisis hasil-hasil pemeriksaan ahli-ahli lain seperti psikolo, dokter, konselor, dan pekerja sosial. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil pemeriksaan berbagai bidang keahlian dan mengaitkan mereka dengan hasil observasi yang dilakukan sendir, guru remedial dapat menegakkan suatu diagnosis yang diharapkan dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien. Berarti seorang guru remedial perlu memiliki pengetahuan dasar tentang berbagai bidang ilmu yang terkait dan dapat menjalin suatu bentuk kerjasama multidisipliner.
Menyusu rekomendasi untuk pen gajaran remedial. Berdasar hasil diagnosis yang secara cermat ditegakkan, guru remedial dapat menyusun suatu rekomendasi penyelenggaraan program pengajaran remedial bagi seorang anak yang berkesulitan belajar. Rekomendasi tersebut mungkin dapat dalam bentuk suatu program pendidikan yang individual (individualized education programs) , yang pelaksanaannya perlu dievaluasi lbih dahulu oleh suatu tim penilai program pendidikan individual (TP31) (Kitano dan Kirby, 1986: 150). Tim tersebut biasanya terdiri dari guru khusus remedial, guru reguler, kepala sekolah, konselor, dokter, psikolog, orang tua, dan mungkin juga anak yang bersangkutan.
  1. Prinsip diagnosis
Ada beberapa prinsip diagnosis yang perlu diperhatikan oleh guru bagi anak berkesulitan belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Terarah pada perumusan metode perbaikan, 2. Efisien, 3. Menggunakan catatan kumulatif, 4. Memperhatikan berbagai informasi yang terkait, 5. Valid dan reliable, 6. Penggunaan tes baku (kalau mungkin), 7. Penggunaan prosedur informal, 8. Kuantitatif, 9. Berkesinambungan.
Ø  Terarah pada perumusan metode perbaikan. Diagnosis hendaknya mengumpulkan berbagai informasi yang bermanfaat untuk menyusun suatu program perbaikan atau program pengajaran remedial. Ada dua tipe diagnosis, Diagnosis etiologis (etiological diagnosis) dan diagnosis terapetik (therapeutic diagnosis). Diagnotis etiologis merupakan diagnotis yang bertujuan untuk mmmengetahui sumer penyebab orisinal dari kesulitan belajar. Diagnosis ini umumnya kurang bermanfaat untuk merumuskan program pengajaran remedial. Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penyakit yang lama diderita oleh seorang anak sehingga anak lama tidak masuk sekolah, yang menyebabkan anak tertinggal dari teman-temannya dalam beberapa bidang studi misalnya: informasi tersebut tidak bermanfaat langsung untuk menyusun program pengajaran remedial. Informasi ini hanya bermanfaat untuk menetapkan sumber penyebab orisinal kesulitan belajar. D iagnosis terapetik merupakan diagnosis yang berkaitan langsung dengan kondisi anak pada saat sekarang. Informasi tentang lingkungan anak sangat penting untuk landasan tindakan korektif sebelum pengajaran remedial dilakukan, Bila lingkungan telah mendukung berlangsungnya proses pengajaran remedial, maka informasi tentang kekuatan dan keterbatasan anak dapat dijadikan landasan dalam penyusunan program pengajaran remedial. Diagnosis bukan hanya sekedar taksiran ketrampilan dan kemampuan anak. Mengingat kesulitan belajar memiliki latar belakang yang kompleks maka informasi mengenai kondisi fisik, sensorik, emosional, dan lingkungan perlu mendapat perhatian.
Ø  Diagnosis harus efisien. Diagnosis kesulitan belajar sering berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat menjemukan, sehingga dapat berpengaruh buruk terhadap motifasi belajar anak. Diagnosis hendaknya berlangsung sesuai dengan derajat kesulitan anak. Evaluasi rutin, termasuk  evaluasi psikologis, dapat memberikan informasi diagnostik yang berharga. Diagnosis yang didasarkan atas hasil-hasil evaluasi  yang dilakukan secara rutin di sekolah dapt digolongkan  kedalam taraf diagnosis umum (general diagnosis). Diagnosis umum ini bermanfaat untuk menyesuaikan program pembelajaran kelompok-kelompok secara umum. Disamping itu, diagnosis umum juga dapat memberikan informasi yang berguna untuk menyesuaikan program pembelajaran yang didasarkan atas individualitas anak dan dapat pula untuk membantu menemukan anak yang memerlukan  analisis lebih rinci tentang kesulitan belajar mereka. Bila kesulitan belajar disertai dengan gejala-gejala lain, misalnya gejala neurologis, maka pemeriksaan medis sering diperlukan. Diagnosis kesulitan belajar yang ditegakkan atas hasil evaluasi semacam itu dapat digolongkan pada taraf diagnosis analitis (analytical diagnosis). Diagnosis analitis, terutama diagnosis medis-neurologis, bermanfaat untuk menentukkan lokasi pada otak yang menyebabkan kesulitan belajar, sehingga dengan demikian dapat dijadikan landasan dalam menyesuaikan program pengajaran remedial yang sesuai dengan keadaan anak. Kadang juga dijumpai anak yang mengalami kesulitan belajar yang sumbernya sukar diketahui. Misalnya, anak yang intelegensinya berada di atas rata-rata dan dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan adanya kelainan neurologis, maka anak tersebut perlu ievaluasi secara lebih cermat. Diagnosis yang ditegakkan atas hasil evaluasi secara lebih cermat itu dapat digolongkan  ke dalam diagnosis study kasus (case-study diagnosis. Diagnosis study kasus sangat bermanfaat untuk menentukan metode pengajaran yang lebih khusus yang sesui dengan kondisi anak.   
Ø  Penggunaan catatan kumulatif. Catatan kumulatif  ( Cumulative records) dibuat sepanjang tahun kehidupan anak di sekolah. Catatan semacam itu dapat memberikan informasi yang sangat berharga dalam pengajaran remedial. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai landasan untuk menentukan pengelompokkan yang sesuai dengan tingkat kesulitan belajar anak.
Ø  Valid dan reliable. Dalam melakukan diagnosis hendaknya digunakan intrumen yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (valid) dan instrumen tersebut hendaknya dapat diandalkan (reliable). Informasi yang dikumpulka hendaknya tepat, yang dapat dijadikan landasan dalam menentukan program pengajaran remedial.
Ø  Penggunaan tes baku. Tes baku adalah tes yang telah dikalibrasi, yaitu telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Berbagai tes psikologis, terutama tes intelegensi, umumnya merupakan tes baku yang telah diuji  validitas dan reliabilitasnya. Tetapi tidak demikian halnya dengan  tes prestasi belajar yang umumnya buatan guru. Di negara kita tes prestasi belajar yang baku masih merupakan barang langka, lebih-lebih dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena menyusun tes baku lebih sulit dan memerlukan biaya tinggi bila dibandingkan dengan tes hasil belajar biasa.
Ø  Penggunaan prosedur informal. Meskipun tes-tes baku umumnya mampu memberikan informasi yang lebih
Ø   
Ø   tepat dan efisien, penggunaan prosedur informal sering memberikan manfaat yang bermakna. Guru hendaknya memiliki perasaan bebas untuk melakukan evaluasi dan tidak terlalu terikat secara kaku oleh tes baku. Di negara yang masih belum banyak dikembangkan tes baku, hasil observasi guru memegang peranan yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis kesulitan belajar anak. Dari observasi informal sering dapat diperoleh informasi yang bermanfaat bagi penyusunan program pengajaran remedial.
            Diagnosis dilakukan secara berkesinambungan. Kadang-kadang anak gagal mencapai tujuan pengajaran remedial yang telah dikembangkan berdasarkan hasil diagnosis. Dalam keadaan semacam ini perlu dilakukan diagnosis ulang untuk landasan penyusunan program pengajaran remedial yang lebih efektif dan efesien. Suatu program pengajaran remedial yang berhasil pun, mungkin masih perlu dimodifikasi untuk memperoleh tingkat efektifitas dan efesiensi yang lebih tinggi. Dengan demikian, diagnosis dilakukan secara berkesinambungan untuk memperbaiki atau meningkatkan efektivitas dan efesiensi program pengajaran remedial.
            Pendidikan bagi anak berkasulitan belajar merupakan bagian dari pendidikan luar biasa. Pendidikan luar biasa atau sering disingkat PLB bukan merupakan pendidikan yang secara keseluruhan berbeda dari pendidikan pada umunya. Jika kadang-kadang diperlukan pelayabab yang terpaksa memisahkan anak luar biasa dari anak-anak lain pada umunya., hendaknya dipandang
3. hubungan antara pendidikan luar biasa dengan pendidikan pada umumnya.
            Sebagai hanya untuk keperluan pembelajaran (intruction)dan bukan untuk keperluan pendidikan (educatian). Ini beratrti, bahwa pemisahan anak luar biasa dari anak pada umumnya hendaknya dipandang hanya untuk meningkatkan efektifitas dan efesien pencapaian tujuan belajar yang terprogram, terkontrol, dan terukur, atau yang secara ringkas disebut tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional khusus (instructional objektifes). Tujuan pendidikan tidak selamanya terprogram, terkontrol, dan terukur. Menjadikan anak-anak salaing menghargai, menjalankan kerjasama, menghargai perasaan dan pikiran orang lain, tenggang rasa, adalah beberapa contoh dari tujuan pendidikan yang tidak selamanya terprogram. Untuk mencapai tujuan pendidikan semacam itu, sering diperlukan intergrasi antara anak-anak luar biasa dengan anak-anak lain pada umunya atau yang sering disebut “anak normal”. Dalam kenyataan, sesungguhnya yang dinamakan anak normal itu tidak ada. Yang ada adalah anak dengan perbedaan indifidual (individual dissferences)dalam kerangka landasan perbedaan kerangka individual itlah pendidikan luar biasa diselenggarakan, dank arena itu, pelayanan pendidikan luar biasa diselenggarakan terintregrasi dengan pelayanan pendidikan pada umunya.
            Dalam kehidupanya, bangsa Indonesia memang teguh semboyan BhinnekaTunggal Ika, suatu semboyan yang pertama kali dikemukakan oleh empu tantulair pada zaman majapahit. Berdasarkan semboyan itu pula, bahasa Indonesia merebut kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, dan berdasarkan semboyan itu pula bangsa Indonesia membangun system pendidikannya. Semboyan bhinnika tunggal ika sering diterjemaahkan sebagai ”berbeda-beda tetap satu”. Meskipun demikian, interprestasi tiap orang tentang apa yang berbeda apa yang bersatu mungkin berbeda-beda. Dalam dunia pendidikan, konsep perbedaan atau bhinneka adalah terkait dengan individual difference sedangkan konsep kesamaan adlah kesamaan dalam misi yang dibuat oleh manusia dalam kehidupanya. Perbedaan dapat bersifat partikel dan dapat pula bersifat horizontal. Perbedaan partikel menunjuk pada inteligensi, ketajaman sensoris, kekuatan fisik, kematangan emosi dan ketajamaan intuisi. Perbedaan horizontal menunjukan pada ras, suku bangsa, agama, adt istiadat, dan bahasa yang semuanya memiliki posisi yang setara sehingga tidak ada yang rendah dantinggi. Dan adanya perbedaan tersebut maka dimungkinkan manusia dapat saling berhubungan dalam rangka saling membutuhkan. Kesamaan menunjuk pada ketunggalan tugas semua manusia dalam hidupnya, yaitu semata-mata mengapdi kepada tuhan yang maha esa. Kesadaran terhadap ketunggalan tugas hidup semua manusia inilah yang mendorong bangsa Indonesia untuk selalu berupaya tidak hanya memahami hakikat pandanhan hidupnya, pancasila, tetapi juga dengan keras berupaya untuk mengaktualisasikannya dalam kehidupan. Dalam dunia pendidikan, aktualisasi pandangan hidup tersebut adalah terintergrasinya anak-anak luar biasa dan anak-anak lainya oada umumnya dalam suatu suasana gotong royang untuk meningkatkan kualitas pengabrian mereka terhadap tuhan yang maha esa. Itulah sebabnya pendidikan luar biasa mungkin dapat dibedakan dipendidikan pada umunya tetapi tujuanya tidak dapat dipisahkan.


4. berbagai teori tentang proses dan hasil belajar
            Pembahasan tentang kesulitan belajar tidak dapat dilepaskan kaitanya dengan pembahasan tentang proses belajar dan hasil belajar.tanpa memahami hakikat proses dan hasil belajar, tanpaknya orang akan sulit untuk memahami kesulitan belajar. Oleh karna itu, pada bagian ini secara berturut-turut akan dibahas proses belajar dan hasil belajar. Pembahasan yang mendalam tentang topic semacam ini terdapat pada buku-buku teori belajar, dan pembahasan pada bagian ini hanya sebagai rangkuman yang bersifat global, yang mengingatkan perlunya mahasiswa yang mengkaji pendidikan anak berkesulitan b
elajar menguasai teori tersebut.

a.Hakikat hasil belajar
Belajar merupakan suatu proses dari seorang individu yang berupaya mencapai tujuan belajar atau yang biasa disebut hasil belajar, yaitu suatu bentuk perubahan prilaku yang relatif menetap. Menurut Morris L. bigge (1982:11) ada dua kelompok teori tenteng belajar, yaitu teori kelompok sebelum abad ke-20 dan kelompok teori belajar abad ke-20 kelompok teori belajar sebelum abad ke-20 terdiri dari tiga macam, yaitu teori disiplin mental terdiri dari dua macam yaitu teori displin mental teistik (theistic mentak discipline) dan teori disiplin mental humanistic (humanistic mental discipline). Kelompok teori belajar abad ke-20 terdiri dari dua kelompok pula, yaitu teori S_R (stimulus-responses) conditioning dan teori kognitif. Teori S-R conditioning terdiri dari tiga macam, yaitu teori S-R bond, teori conditioning tanpa pengulanan penguatan dan teori canditioningmelalui ulangan penguatan (conditioning through reinforcement). Kelompok teori kognitif terdiri dari tiga macam pula, yaitu teori insight, goal insght dan cognitivefield. Berbagai teori tentang belajar tersebut dapat dikemukakan dalam bentuk bagan sebagai berikut. Seperit pada gambar 2.1 dibawah ini.










Teori disiplin mental
Teori belajar sebelum abad Ke 20
Teori aktualisasi diri
Teori apersepsi
Teori disiplin mentalTeistik
Teori disiplin mentalTeistik humanistik
Gambar 2.1
Macam -Macam Teori Belajar Menurut Morris L. Bigge
(1982: 8-9)







Teori belajar  abad Ke 20
Teori kognitif
Teori insight

Teori goal insight

Teori cognitive filed
Teori S-R Bond
Teori conditioning
Tanpa reinfortement
Teori conditioning
Melalui reinfortement
Teori S-R conditioning
 












Menurut kelompok teori disiplin mental. Proses belajar terjadi jika mental anak disiplin atau dilatih metode latihan dan resitasi merupakan perwujudan dari teori tersebut. Tokoh0tokoh teori displin mental teistik ialah St. Aguestine, j.Calvin, C.Wolff dan j.Edward; sedangkan tokoh2 teori disiplin mental humanistik ailah Plato dan Aristoteles. Adapun  tokoh-tokoh konterporer dari teori disiplin mental ialah M.J.Adler.Harry S. Broudy, dan R.M. Hutchins
Teori aktualisasi diri memandang manusia sebagai mahluk yang pada dasarnya baik dan mampu mengarahkan diri. Menurut teori ini, manusia menjadi buruk karna pengaruh lingkungan social. Oleh karna itu, guru hendaknya membe rikan kebebasan kepada anak dalam belajar. Bantuan kepada anak hendaknya hanya diberikan bila anak mengalami kesulitan. Menurut teori ini, kegiatan belajar hendaknya tidak memaksa anak tetapi merupakan pengalaman yang menyenangkan. Tokkoh-tokoh dari teori ini ialah J.JRousseau, F.Frobel dan Progressivists. Adapun tokoh-tokoh kontemporernya ialah P.Goodman, J.Holt, dan Abraham H,Maslow.
Teori apersepsi sering disebut juga Herbartianisme karna tokoh dari teori ini ialah J.F. Herbart. Apersepsi adalah suatu proses menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah ada dalam diri anak. Menurut teori apersepsi, proses balajar dipandang sebagai proses menghubungkan atau asosiasi pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dikuasai anak.
(1)   Hukum kedekatan (contiguity)
(2)   Hukum urutan (succession)
(3)   Hukum kemirip an (similarity)
(4)   Hukum pertentangan (contrast)
Berdasarkan hukum kedekatan, anak akan mudah mengingat kembali dua peristiwa yang disajikan secara serentak jika  salah satu dari peristiwa tersebut diperlihatkan. Hukum urutan menjelaskan bahwa penyajian materi pelajaran yang berurutan akan memudahkan proses belajar. Hukum kemiripan menjelaskan bahwa penyajian suatu materi yang dikaitkan dengan materi lain yang mirip yang telah dikuasai oleh anak dapat memudahkan proses belajar. Tokoh teori apersepsi selanin J.F. Herbert ialahE.B. Titchener.
Teori S-R bond atau koneksionisme berpandangan bahwa proses belajar pada manusia pada hakikatnya mengikuti prinsip yang sama dengan yang terjadi pada hewan. Proses belajar tersebut merupakan suatu bentuk perubahan prilakuyang dapat diamati yang terjadi melalui hubungan rangsang-jawaban menurut prinsip-prinsip yang mekanistik. Tokoh teori koneksionisme ialah E.L.Torndike, sedangkan tokoh konterporernya ialah A.I.Gates dan J.M.Stephaens. menurut teori ini ada hukum primer tentang proses balajar, yaitu (1) hukum kesiapan (lawofreadiness), (2) hukum latihan (lawoffexerxcie or repetition), dan (3) hukum akibat(lawoffeffcet).
Hukum kesiapan menjelaskan jika seorang anak telah memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu dan diberi kesempatan untuk melakukanya, maka anak tersebut akan melakukan dengan sepenuh hati. Sebaliknaya, jika anak belum memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu dan disuruh melakukanya maka ia akan melakukan dengan tidak sepenuh hati. Hukum laihan menjelaskan adanya penguasaan materi pelajaran yang semakin meningkat oleh adanya latiha atau ulangan. Hokum akibat menjelaskan bahwa kuat atau lemahnaya rangsang-jawaban tergantung pada akibat yang diterima oleh anak. Anak yang melakukan suatu perbuatan cenderung mengulang perbuatan tersebut. Sebliknaya anak yang memperoleh hukuman akibat dari perbuatanya maka anak tersebut cenderung menghindari perbuatan itu. Teori Conditioning tanpa ulangan penguatan atau sering disebut celassical conditioning memandang belajar sebagai suatu proses pembentukan reflex bersyarat (a process of building conditioned reflexes) melalui penggantian rangsangan yang satu dengan rangsangan yang lain. Tokoh dari teori ini ialah J.B.Watson  sedangkan tokoh konterporernya ialah E.R.Guthrie. berdasarkan pandangan tentang proses belajar seperti yang telah dikemukakan, Wapson mengemukakan hukum associative shifting yang intinya menjelaskan bahwa prilaku anak dapat dibentuk dengan jalan berulang-ulang perilaku yang diharapkan “dipancing” dengan sesuatu yang menimbulkan perilaku itu. Rwin R.Guthrie mempercayai bahwa proses belajar terjadi jika stimulus dan suatu respons terjadi secara serempak. Derdasarkan pandangan tersebut Guthrie mengemukakan hukum stimulutaneous contiguous conditioning. Contiguity berarti bahwa stimulus yang muncul pada saat yang bersamaan dengan munculnya suatu respons jika diulang cenderung menimbulkan respons tersebut. Menurut Newman dan Newman (1979:6) poses belajar melalui asosiasi seperti diperlihatkan pada teori classical conditioning tersebut sesuai untuk bayi berusia sekitar 6bulan, yaitu sebelum mampu menguasai keterampilan motorik mereka.
Teori conditioning melalui ulangan penguatan sering disebut teori instrumental conditioning atau operant conditioning tokoh teori ini adalah C.L.Hull sedangkan tokoh konterporernya ialah B.F.Skinner, K.W.Spence, R.M.Gagne, dan A.Bandura. Hull mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori drivesstimulus reduction reinforcement.
Menurut  Hull proses belajar terjadi melalui adaptasi biologis dari suatu organism terhadap lingkungannya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.Skinner berpendapat bahwa prilaku yang  diharapkan oleh anak dapat dibentu melalui serangkaiankegiatan yang diawali dari prilaku yang telah dikuasai menuju prilaku yang diharapakan dengan memberikan pengulangan penguatan(reinforcement) terhadap setiap keberhasilan anak. Menurut Gagne,proses belajar hendaknya bertahap,dari yang paling sederhana ke yang kompleks.Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran perlu diperhatikan adanya delapan jenjang kondisi belajar yaitu:
1.      Belajar tanda (signal learning)
2.      Bela
3.      jar rangsang-jawaban (Stimulus-Response learning)
4.      Caining
5.      Asosiasi verbal (verbal asossiation)
6.      Belajar Diskriminasi (Discrimination learning)
7.      Belajar Konsep (concept learning)
8.      Belajar aturan (rule Learning)
9.      Pemecahan masalah (Problem solving)
Menurut Bandura seperti  dikutip oleh Singgih D. Gunarsa (1981;183),anak dapat belajar sesuatu lebih cepat  melalui pengamatan atau melihat prilaku orang lain.Bandura mengungkapkan ada 4 komponen  dalam proses belajar melalui pengamatan yaitu :
1.      Perhatian
2.      Pencaman
3.      Reproduksi alat gerak
4.      Ulangan penguatan dan motivasi
Setelah anak memperhatikan materi pelajaran yang  disajikan oleh guru,anak mencamkan dan menyimpan hasil pengamatannya dalam bentuk symbol-simbol.kemampuan untuk melakukan sinbolisasi inilah yang memungkinkan manusia dapat belajar banyak melalui pengamatan.Adapun factor yang terlibat dalam pencaman menurut Bandura seperti yang dikutip oleh Shaw dan Costanzo (1985:58) adalah sebagai berikut:
1.      Penyandian simbolik
2.      Organisasi kognitif
3.      Pengulangan simbolik
4.      Pengulangan mental
Keempat factor tersebut merupakan landasan dari dua system penggambaran yaitu: penggambaran khayal  dan penggambar verbal.kedua system pengggambaran tersebut memungkinkan manusia menyimpan kesan-kesan simbolik yang kemudian dapat di reproduksi  atau dimunculkan kembali bila diperlukan.Proses reproduks merupakan  gambaran simbolik yang dimiliki anak kedalam perbuatan nyata. Seperti yang diungkapkan oleh Singgih D Gunarsa (1982:186),reproduksi tersebut erat kaitannya dengan kemauan dan motivasai,sedangkan motivasi berkaitan dengan ulanagan penguat.
            Semua proses belajar terjadi dalam dua macam hubungan ,yaitu hubungan material dan hubungan social. Hubungan material berhubungan dengan pertemuan anak dengan meteri pelajaran,sedangkan hubungan social ditandai oleh adanya hubungan anak dengan guru dan hubungan anatarsesama  anak. Dollard dan Miller dengan teori sosisal belajar seperti yang dikutip oleh Shaw dan Costenzo (1985:43) mengemukakan ada empat prinsip yang mendasari semua proses belajar.
1.      Dorongan
2.      Isyarat
3.      Jawaban (response)
4.      Hadiah
Berdasarkan prinsip tersebut secara paragdimatik dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini:
Gambar 2.2
Paragdimatik peristiwa belajar menurut J.C Dollard dan N.E.Miller

                        Respon                                               Respon
Isyarat               (                 Dorongan     )                                           Hadiah

                           Internal                                            eksternal

Teori dollard dan Miller seperti yang telah dikemukakan oleh Newman dimasukan kedalam kelompok teori avoidance conditioning. Teori ini mendasarkan usaha untuk memperkembangkan prilaku yang diharapkan melalui ancaman akan dating hukuman atau rasa tidak enak.Norma kelompok dalam kelas dapat merupakan isyarat bagi anak tentang bagaimana mereka harus berperilaku sesuai dengan norma kelompok tersebut.
Isyrat tersebut akan membangkitkan respon internal terhadap diri pada diri anak yang menyesuaikan diri (imitasi)dengan norma kelompok. Kesadaran tersebut tidak tampak atau tidak dapat diamati,dank arena itu disebut respon tertutup. Kesadaran anak untuk menyesuaikan prilakunya dengan norma kelompok membangkitkan dorongan.dan selanjutnya dorongan tersebut membangkitkan respon eksternal. Jika respon eksternal anak sesuai dengan norma kelompok maka ia akan diterima kelompoknya.Perasaan diterima tersebut merupakan suatu hadiah bagi anak yang menerimanya.perasaan diterima oleh kelompok merupakan peredaan ketegangan yang disebutkan oleh adanya dorongan yang memenuhu kebutuhan social.Kebutuhan social adalah dorongan sekunder yang pada dasarnya merupakan perwujudan lebih lanjut dari dorongan primer ada lima yaitu:
1.      Rasa lapar
2.      Rasa dahaga
3.      Kelelahan
4.      Menghindari rasa sakit
5.      Dorongan seksual
Menurut kelompok teori kognitif,belajar adalah proses pencapaian atau perubahan pemahaman,pandangan,harapan,atau pola pemikiran. Menurut Piaget  ada empat tahapan perkembangan kognitif yaitu :
1.      Tahap sensorik – motorik (0-2 tahun)
2.      Tahap pra-operasional ( 2-7)
3.      Tahap konkrit operasional ( 7-11)
4.      Tahap formal-operasional (11 Tahun)
Menurut Brunner,ada 3 tahap dalam proses belajar yaitu:
1.      Enactive
2.      Iconic
3.      Symbolic
Pentahapan proses belajar yang disampaikan oleh brunner pada hakikatnya tidak berbeda dari yang dikemukakan oleh Piaget.Tahap Enactive adalah tahap dalam proses belajar yang ditandai oleh manipulasi secara langsung objek-objek berupa benda atau peristiwa konkret. Tahap Iconic ditandai oleh penggunaan symbol dalam proses belajar.Bertolak dari teori pemrosesan informasi yang merupakan bagian dari kelompok teori kognitif,Thomas H. Leyahey dan Ricard J. Harris (1985:103) mengemukakan bahwa informasi dapat diproses,disimpan,dan dinunculkan kembali untuk digunakan bila diperlukan. Menurut teori ini,pada mulanya informasi masuk kedalam tahapan iconic. Tahapan iconic adalah tahapan yang memproses informasi sampai saraf sensorik. Jika anak mempunyai perhatian terhadap informasi tersebut,selanjutnya akan masuk kedalam ingatan jangka pendek. Dalam ingatan jangka pendek terjadi pengulangan dan penyandian.Melalui pengulangan,informasi akan tetap berada dalam ingatan jangka pendek,sedangkan melalui penyandian   informasi akan dimasukan kedalam ingatan jangka panjang dalambentuk struktur kognitif. Struktur kognitif tersebut selanjutnya dapat dipanggil kembali untuk digunakan dalam proses berfikir. Dengan demikian proses elajar menurut teori ini dapat dipandang sebagai proses pengolahan,penyimpanan,dan pemanggilan kembali informasi untuk digunakan bila diperlukan.
      Dalam mengkaji kesulitan belajar,pandangan neurofisiologik tidak dapat diabaikan.Menurut teori tersebut proses belajar tidak dapat dilepaskan kaitanya dengan perkembangan fungsi otak. Wittock seperti  dikutip oleh Barbara Clark(1983:6) mengemukakan ada 3 wilayah perkembangan otak yang semakin menungkat,yaitu pertumbuhan serabut dendrite,kompleksitas hubungan sinaptik,dan pembagian. Sarap adalah satuan dasar otak ,terdiri dari tubuh sel,dendrite dan axon.
            Perkembangan manusia dipengaruhi oleh factor genotif dan fenotif. Faktor keturunan yang diperoleh sejak masa konsepsi,yang merupakan kerangka atau potensi yang menjadi sesuatu. Dalam lingkungan yang sesuai,genotif tersebut akan menjadi actual,dan aktualisasi factor genotif inilah yang disebut fenotif. Dengan demikian ,potensi yang telah ada sejak masa konsepsi.
            Pandangan guru tentanag hakikat proses belajar akan menentukan strategi pembelajaran yang memecahkan masalah kesulitan belajar. Bertolak dari pembahasan tentang berbagai teori tentang proses belajar seperti yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan  suatu proses dari seorang yang berusaha memperoleh bentuk prilaku yang relative menetap. Ada dua tinjauan tentang proses belajar yaitu tinjauan psikologik dan tinjauan neurofisiologik . berdasarkan  tinjauan psikologik, ada dua kelompok teori belajar,teori belajar behavior dan kognitif.Kelompok belajar beovior  memandang manusia sebagai mahluk yang pasif yang dipengaruhi stimulus dari lingkungan. Kelompok kognitif memandang manusia sebagai mahluk yang aktif yang bebas mebuat pilihan. Tinjauan neurofisiologikmempertemukan dua kelompok teori belajar,yaitu behaviorisme dan kognitif. Perpaduan dari berbagai teori tentang proses belajar tersebut berharap dapat digunakan sebagai landasan dalam memecahkan masalah dalam kesulitan belajar.
b. Hakikat hasil belajar       
            Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan  sustu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan prilaku yang relative menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogam dan terkontrol disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional,tujuan belajar telah diterapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan –tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan intruksional.
            Menurut Benjamin S. Bloom (1966:7) ada tiga ranah hasil belajar yaitu afektif,kognitif,psikomotorik. Menurut A.J Romiszowski (1981:217) hasil belajar merupakan keluaran(output) dari suatu system pemrosesan masukan (input). Masukan dari system tersebut berupa bermacam- macam informasi sedangkan keluarannya adalah  perbuatan atau kinerja. Menurut Romiszowki perbuatan merupakan petunjuk  bahwa proses belajar telah terjadi dan hasil belajar dapat dikelompokkan kedalam dua macam saja yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat kategori,yaitu:

1.         Pengetahuan tentang fakta
2.         Pengertahuan tentang prosedur
3.         Pengetahuan tentang konsep
4.          Pengetahuan tentang prinsip
Keterampilan juga terdiri dari empat kategori yaitu:
1.         Keterampilan untuk berfikir atau keterampilan kognitif
2.         Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik
3.         Keterampilan bereaksi atau bersikap
4.         Keterampilan berintegrasi
Seperti halnya Romiszowski,dan John M. Killer(1983:391) memandang hasil belajar sebagai keluaran suatu system pemerosesan berbagai masukan berupa informasi. Erbagai masukan tersebut menurut Keller dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu kelompok mesukan pribadi(personal inputs) dan kelompok masukan yang bersal dari lingkungan (environmental input).Menurut keller masukan pribadi terdiri dari empat macam yaitu: (1) motivasi atau nilai-nilai,(2) harapan untuk berhasil (3) Intelegensi dan penguasaan awal (4) evaluasi kognitif terhadap kewajaran atau keadilan konsekuensi. Masukan yang berasal dari lingkungan terdiri dari tiga macam yaitu, (1) rancangan dan pengolahan motivasi (2) rancanagan dan pengolahan kegiatan belajar,dan (rancangan dan pengolahan ulangan penguat.
            Keterangan dari gambar 2.3 yang ada di bawah ini bahwa  motivasi tidak berpengaruh langsung terhadap  hasil belajar tetapi berpengaruh terhadap besarnya  usaha yang dicurahkan oleh anak untuk mencapai tujuan.Menurut Keller,hasil belajar adalah prestasi actual yang ditampilkan  leh anak-anak sedangkan usaha adalah perbuatan yang terarah pada penyelesaian tugas-tugas belajar. Ini berarti bahwa besarnya usaha adalah indicator dari adanya motivasi; sedangkan hasil belajar dipengaruhi oleh besarnya usaha yang dilakukan oleh anak.
            Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar dengan kapsitas intelegensi anak;dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi,yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran yang baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan oleh anak.Ini berabri guru harus perlu menyusun rancangan dan pengolahan pembelajran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi  terhadap lingkungannya.
            Hasil belajar yang dipengaruhi oleh besarnya usaha yang dicurahkan.Intelegensi,dan kesempatan yang di berikan kepada anak  ,pada gilirannya berpengaruh terhadap konsekuensi dari hasil belajar tersebut.Konsekuensi dapat instrinsik dan ekstrinsik. Konsekuensi instrinsik dapat beruapa perasaan puasa atau tidak puas; sedangkan konsekuensi ekstrinsik dapat berupa hasian dan hukuman dari orang tua tau guru. Konsekuensi atas hasil belajar tersebut berkaitan elakukan evaluasi kognitif atas kewajaran atau keadilan konsekuensi terebut. Jika konsekuensi atas keberhasilan velajar dinilai wajar  atau adil oleh anak ,maka konsekuensi tersebut dapat Meningkatkan motivasi belajar. Sebaliknya,jika konsekuensi atas hasil belajar yang dicapai dinilai oleh anak sebagai tidak wajar atau tidak adil,maka konsekuensi tesebut akan melemahkan motivasi belajar. Dengan demikian,terjadi suatu lingkaran yang menghubungkan antara motivasi,usaha,hasil belajar,konsekuensi,dan kembali ke motivasi.
            Konsekuensi atas hasil belajar tidak hanya dipengaruhi oleh hasil belajar itu sendiri tetapi juga oleh ulangan penguatan yang diberikan oleh lingkunagn social,terutama guru atau orang tua.Oleh karena itu,pemberian ulangan penguatan yang wajar dan adil merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran,lebih-lebih bagi anak yang berkesulitan belajar.Penjelasan Keller tentang berbagai factor yang berpengaruh terhadap hasil belajar seperti yang telah dikemukakan menunjukan bahwa ia mencoba menggabungkan variable kognitif dan variable lingkungan dalam hubungannya dengan usaha,hasil belajar,dan konsekuensi. Dengan kata lain,keller tampaknya berupaya memadukan teori-teori behavioristik dan kognitif untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.










Gambar 2.3
Hasil Belajar dan Berbagai Faktor uang Berpengaruh Menurut
John M . Keller
Evaluasai Kognitif Tentang Kewajaran Dan Keadilan
Intelegensi Dan Penguasaan Awal
Motif dan nilai
                                                                                                                                          
                                               

 

Masukan
Pribadi                                                                               


Harapan Berhasil
 



                                                                                                                                 
Hasil Belajar
Konsekuensi
Usaha
 
           Keluaran
Rancangan dan Pengolahan Motivasi
Ulangan Penguat (Reinforcment)
Rancangan dan Pengolahan Pembelajaran
 
 Masukan
Lingkungan
Soal  Evaluasai
  1. Potensi anak biasanya didasarkan atas sekor tes intelegensi, jika hasil tes IQ menunjukkan sekor IQ 71 hingga  89, maka anak tersebut tergolong?
a.       Tunagrahita           b. lamban membaca     c. lamban  belajar        d. normal
  1. Menurut Samuel A.kirk prosedur diagnosis mencakup lima langkah diantaranya, kecuali?
a.       Lokalisasi penyebab kesulitan
b.      Menentukan gejala kegagalan dalam suatu bidang study
c.       Menentukan potensi atau kapasitas  anak
d.      Menentukan taraf kemampuan dalam suatu bidang studi yang mmemerlukan pengajaran remedial
3.      Menurut Jujun S. Suriasumantri ilmu pendidikan merupakan ilmu terapan yang mengaplikasikan tiga ilmu sosial Murni dibawah ini, Kecuali ......
a.       Psikologi
b.      Sosiologi
c.       Antropologi
d.      Sejarah
4.      Pendidikan bagi anak yang berkesulitan belajar merupakan bagian dari ilmu..
a. PLB
b. BLP
c. SLB
d. BPL
5..    Belajar adalah proses pencapaian atau perubahan pemahaman,pandangan,harapan,atau pola pemikiran,Menurut Piaget ada tahapan- tahapan,dalam hal ini pada tahap manakah yang di alami pada umur 7-11 tahun?
a.Tahap Pra operasional
b. Tahap Formal Operasional
c.Tahap Sensorik- Motorik
d Tahap Konkret Operasional
e Tahap Kedewasaan
soal esay
  1. Dalam pelayanan pengajaran remedial bagi anak berkesulitan belajar apa yang hendaknya dilakukan guru sebelum pengajaran remedial diberikan ?
  2. Sebutkan tujuh prosedur yang harus dilalui dalam menegakkan diagnosis?
  3. Menurut Benjamin S Bloom terdapat 3 ranah dalam pembelajaran sebutkan?
4.      Mengapa Diagnosea yang dilakukan secara terus menerus. Tolong jelaskan menurut anda!
  1. Brunner mengemukkaan ada 3 tahap dalam proses belajar sebut dan jelaskan?




jawaban esay
1.      Guru lebih dahulu perlu menegakkan diagnosis kesulitan belajar, yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien.
2.      Tujuh Prosedur dalam diagnosis adalah:
1.      Identifikasi
2.      Menentukan prioritas
3.      Menentukan potensi anak
4.      Menentukan taraf kemampuan
5.      Menentukan gejala kesulitan
6.      menganalisis faktor-faktor yang terkait
7.      menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial
3.   Tiga ranah dalam pendidikan  yaitu:
a)      Kognitif: ilmu pengetahuan
b)      Afektif : Sikap
c)      Psikomotor :Keterampilan
4.        karna untuk memperbaiki atau meningkatkan evesiensi, terkadang anak gagal dalam mencapai tujuan pengajaran remedial yang telah dikembangkan berdasarkan hasil diagnosis dalam keadaan semacam ini perlu dilakukan diagnosis ulang atau secara berkesinambungan untuk landasan program pengajaran remedial yang lebih evesien dan evektif.
5.   Tahap Enactive adalah tahap dalam proses belajar yang ditandai oleh manipulasi secara langsung objek-objek berupa benda atau peristiwa konkret. Tahap Iconic ditandai oleh penggunaan symbol dalam proses belajar.Bertolak dari teori pemrosesan informasi yang merupakan bagian dari kelompok teori kognitif,Thomas H. Leyahey dan Ricard J. Harris (1985:103) mengemukakan bahwa informasi dapat diproses,disimpan,dan dinunculkan kembali untuk digunakan bila diperlukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar